Subandriyo: Berbagi Ilmu di Masa Pensiun

Subandriyo saat mengajar bahasa Inggris

JAKARTA,Lenterakristiani.com-Ketika pensiun, biasanya orang cenderung berpikir ingin beristirahat, menghabiskan waktu dengan berleha-leha, bermain bersama cucu, kongkow-kongkow bersama teman lama, dan sebagainya. Namun semua itu tampaknya tidak berlaku bagi Subandriyo. Justru yang ada dalam pikirannya adalah, bagaimana ilmu yang dimilikinya, berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan, bisa ditularkan kepada orang lain lewat dunia pendidikan, seperti yang diimpikannya.

“Beberapa tahun sebelum pensiun, saya memiliki impian untuk mengajar Bahasa Inggris kepada anak-anak yang tidak mampu. Hal ini dilatar belakangi pengalaman hidup saya sendiri.  Saya dibesarkan dalam keluarga sederhana.  Dengan ketrampilan Bahasa Inggris, saya mendapatkan kesempatan meningkatkan taraf hidup,”ceritanya kepada Lenterakristiani.com.

Setelah memasuki masa pensiun, tepatnya pada 1 Juli 2018, dia pun berupaya mencari lembaga pendidikan yang dapat mewujudkan cita-citanya itu. Berkat pertolongan Tuhan, Subandriyo akhirnya menemukan dimana impiannya itu berada, yaitu Sekolah Master Indonesia. Di sekolah ini dia menjadi tenaga pengajar bahasa Inggris.

Sekilas mengenai Sekolah Master Indonesia, lembaga pendidikan ini didirikan oleh H. Nurokhim. Karena lokasinya diantara Masjid dan Terminal Depok, maka dinamai sekolah “Master”. Muridnya adalah masyarakat miskin hingga anak-anak jalanan tanpa dipungut biaya sepeser pun, alias gratis.

Sekolah Master Indonesia di Depok. Warna-warni seindah bunga di taman.

Dulunya, bangunan Sekolah Master Indonesia hanya mengandalkan emperan masjid di terminal Depok. Namun kini berubah jadi susunan kontainer yang dihias dengan cat warna-warni di bagian luarnya. Meski demikian, sederet prestasi juga sering diraih oleh pelajar Sekolah Master Indonesia ini. Baik bidang akademis maupun nonakademis.

“Tanggal 23 Juli 2018 adalah hari pertama saya mengajar. Murid-murid kami sebagian besar dari keluarga pra sejahtera.  Saya telah mengunjungi beberapa rumah mereka, kontrakan kamar ukuran 3 X 3 M.  Sebagian besar beragama Islam, hanya ada kurang dari 1% non-Islam,” tuturnya.

Sistim pembelajaran di sekolah Sekolah Master Indonesia, jelas Subandriyo, berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya.  Hanya ada enam mata pelajaran yang diajarkan, yaitu Matematika, IPA, IPS, PPKN, Agama Islam dan Bahasa Inggris.  Sekolah mulai jam 8.30 pagi dengan pelajaran membaca Al’Quran.  Kemudian jam 10 mereka mulai dengan mata pelajaran umum dan berakhir pada saat adzan sekitar jam 12.

“Kelas-kelas kami diisi antara 25-35 murid. Tanpa kursi dan bangku, anak-anak duduk di lantai dengan meja panjang untuk menulis. Ruangan kami di dalam kontainer yang dimodifikasi menjadi ruang kelas, kami seperti berada di sauna setiap hari. Semua fasilitas sekolah adalah sumbangan dari berbagai pihak.  Para guru adalah volunteer. Saya mengajar kelas 6, 7, 8, 9, dua hari dalam seminggu.  Hari Senin saya mulai jam 10 sampai jam 4.30 sore.  Selasa jam 10-12.  Pada jam-jam itulah saya menikmati sauna,” kisahnya.

Murid-murid tidak diharuskan memakai seragam. Oleh sebab itu, di kelas seperti warna bunga-bunga di taman. Kadang ada pula yang tertidur. “Saya membiarkan itu karena bisa jadi semalam dia harus bekerja mencari sesuap nasi. Kedekatan saya dengan anak-anak merupakan berkat Ilahi, saya menjadi dekat dengan Juruselamat saya. Saya teringat firman Juruselamat dalam sebuah perumpamaan: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya apa yang kamu lakukan untuk salah satu yang paling hina ini, kamu melakukannya juga untuk Aku. Seperti dalam Matius 25:45 tapi kata “tidak” dihilangkan,” ujarnya.

Meski dalam situasi seperti itu, Subandriyo mengaku tetap merasa sangat bahagia karena bisa mengajar di sekolah ini. Dia pun selalu berdoa bagi murid-muridnya agar memiliki kehidupan yang lebih baik ke depan. Sebab, sebagian besar dari mereka mempunyai impian yang tinggi, dan dirinya selalu mendorong agar mereka memiliki dan menggapainya.

Selain sebagai tenaga pengajar di Sekolah Master Indonesia, pria yang pernah menjadi pejabat di Gereja Yesus Kristus dari Orang Suci Zaman Akhir ini, ternyata masih memiliki sejumlah kesibukan lain, seperti kuliah S2 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Unindra, dosen bahasa Inggris di Akademi Refraksi/Optisi Leprindo, pengurus Bank Mata Indonesia bidang Komunikasi, Ketua Yayasan Charity Vision Indonesia, dan Komisaris APW yang bergerak dibidang Mobile Optical Shop.

Selain itu, sedang mengembangkan kurikulum pembelajaran bahasa Inggris yang menjamin anak didik lulus SMP bisa berbicara dan menulis dengan baik. Juga bersama rekan-rekan alumni SMAGA 76, Solo, memasyarakatkan ikatan orangtua dan anak-cucu, melalui program pembuatan video Legacy kakek-nenek sebagai syarat kelulusan. Dan yang tak kalah menarik, selalu memasak ikan woku setiap minggu untuk cucu-cucunya. Selamat berbagi ilmu Pak! (Marks)

 

 

Facebook Comments

Default Comments (0)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*